Januari 6, 2009

MENJADI CITRA ALLAH

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita dengan lidah kita mengutuk manusia yang dicipta serupa Bapa dan dari mulut yang satu keluar kutuk dan berkat (Yakobus 3: 9-10)

Banyak orang mudah takut dan bingung. Banyak orang mudah marah tanpa sebab. Banyak orang mudah gelisah. Cemas, was-was, khawatir tanpa tahu mengapa harus demikian. Banyak orang menjadi cuek, masa bodoh, apatis tanpa tahu mengapa harus bersikap begitu.

Hal tersebut sangat manusiawi. Sebab, dalam hidup keseharian, kita hanya berhenti pada suasana yang tercipta atau kita ciptakan. Kita berdiam diri, menyerah, pasrah. Tak bernyali menjari solusi. Atau, mencari ’causa prima’; penyebab utamanya.

Dalam situasi ini kita menghindar dan berkelit. Seolah, tidak terjadi apa-apa. Kita menyimpan dalam-dalam ke alam bawah sadar. Tak ada daya membongkar dan memperbaharui, menanggalkan dan mengenakan, menafsir dan menaksir ulang arah dan tujuan hidup. Tak ada keberanian dan kejujuran untuk kembali ke panggilan kodrati: menjadi citra Allah.

Menjadi citra Allah tidaklah mudah-populer-memikat untuk saat ini. Terlebih, di tengah dunia yang mengagungkan kemewahan, penampilan, lahiriah, instan menjadi citra Allah adalah kontroversial-kampungan-kuno-udik. Sehingga, harga diri dan jatidiri sebagai ’ciptaan yang paling agung telah hilang dari bumi yang berketuhanan. Lihat saja, siapa yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan? ”Orang-orang terhormat” dan ”kaum cerdik-pandai”!

Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja, menyodorkan empat karya besar sebagai solusi menjadi citra Allah: Confessiones, De Trinitate, De Natura et Gratia, dan De Civitate Dei.

Setiap orang harus bertobat (confessiones) agar menemukan Bapa-Putra-Roh Kudus (De Trinitate). Dengan demikian hidup dan kehidupan dihayati sebagai rahmat dan karunia (de natura et gratia): suka-duka, gagal-sukses, gembira-sengsara, sakit-sehat. Dengan demikian, Tuhan merajai hidup dan kehidupan (de civitate Dei). Dengan bertobat-mengalami-mensyukuri-melakukan kehendak-Nya, kita menjadi citra Tuhan. Tanpa keempat Jalan Agustinus tidak mungkinlah kita rukun pada diri sendiri, rukun pada sesama, rukun pada alam semesta.

Kesadaran akan jalan kesadaran Agustinus, setiap orang beriman kristiani akan menjadi garam, terang, dan ragi. Selalu terlibat dan melibatkan diri dalam pemberdayaan dan penebusan. Cepat mengerti, lambat mengadili. Cepat menangkap, lambat komentar!

Mengapa harus cemas-gelisah-takut-khawatir bila kita hidup dalam citra Allah? Kita akan semakin kuat dan tahan banting. Cepat mengampuni dan cepat melupakan kesalahan orang. Dan, seperti Daud kita mengucap setiap saat, ”Sekalipun berjalan di lembah kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Memang, orang yang hidup dan bertindak demi selera pribadi pasti ”jiwa, hati, dan kehidupan rohaninya tidak sehat” Sadari dan hayati bahwa orang mengritik dan menegur kita dengan keras merupakan perwujudan kasihnya kepada kita; jika mereka tidak mengasihi kita pasti mereka tidak menegur atau mengritik kita dengan keras, melainkan mendiamkan kita. Pertolongan Tuhan kepada kita menjadi nyata dalam dan melalui aneka perlakuan yang terarah pada kita, entah yang enak maupun tidak enak, yang sesuai atau tidak sesuai dengan dengan selera pribadi kita.

TETESAN EMBUN

Alamat Redaksi : Pilangsari Endah D-36, Cirebon

Telp. : (0231) 233903

HP : 08122405962

Email : Js_kamdhi@yahoo.co.id

.

:

TETESAN EMBUN

Januari 2009 Berserah dalam Pelayanan

TAHUN BARU NO. 01/Th. I/1/2009

SAPAAN REDAKSI:

Mengapa Tetesan Embun?

Kini, kebenaran telah punah di negeri jamzrud khatulistiwa. Kebohongan, pura-pura, kepalsuan, bertebaran di setiap jengkal. Terganggulah relasi. Hilanglah dialog batin rohani. Suasana hidup penuh rekayasa. Basa-basi, tak ada spontanitas.

Sayang, banyak orang menolak yang benar. Yang benar menjadi samar. Yang jujur menjadi hancur. Yang adil menjadi kerdil. Yang setia merana! Menyatakan dan mengatakan yang tidak benar menjada ”gaya hidup”. Benarlah filsuf-penyair John Wolgang von Gothe, ”Kebenaran adalah cahaya yang menyilaukan, sehingga orang lebih suka menutup mata.”

Dari dunia binatang kita bisa belajar bagaimana berinteraksi, bersosialisasi, dan bertahan dalam tantangan-himpitan-cobaan. Seolah, binatang dibekali kemampuan menyesuaikan diri. Ikan, misalnya, meskipun hidup di laut dengan air yang asin, tetapi tidak menjadi asin. Ada daya yang luar biasa hingga tak dilibas situasi, tetapi mampu menciptakan situasi. Tidak terkondisikan, tetapi mengkondisikan.

Lalu, dengan langkah dan gerak jiwa manakah tahun baru, 2009, akan kita jalani?

INSPIRASI

Berkat Tuhan

Pada musim hujan seperti ini, air sungai akan tampak keruh. Dapat dipahami karena lumpur, sampah, terbawa arus. Hanya, satu hal yang pasti ikan-ikan tetap bertahan. Tetap lincah. Gembira-ria.

Keruhnya air diyakini melimpah rezeki. Makanan berlimpah. Ikan-ikan berpesta. Dan, hanya ikan-ikan yang melompat dari keruhnya airlah yang kelaparan. Ikan-ikan yang kawatir akan mati, hidup tak nyaman, dan menghindar dari keruhnya air.

Rahmat di balik penderitaan, itulah kenyataan”. Jika Anda bertanya bagaimana mungkin ikan dapat mencari makanan di air keruh, silakan Anda merenungi hidup Anda dengan bertanya, ”Bagaimana mungkin Anda dapat mempe-roleh berkat dari keruhnya sungai kehidupan?”

Blencong

Blencong (bukan bencong) adalah lampu di atas Ki Dalang pada saat mengadakan pertunjukan wayang kulit. Karena blencong itulah lahir bayangan yang bisa ditonton di balik layar (kelir) tempat Ki Dalang memainkan wayang. Ada bayangan yang mengganggu pertunjukan, bila kelir (layar) itu kotor dan bernoda. Bayangan akan menjadi kabur, apalagi bila wayang jauh dari kelir.

Wayang adalah penghadiran kehidupan manusia. Setiap orang memiliki peran: raksasa, satria, cendekia, pendeta, prajurit, raja, ratu. Peran akan berakhir bila pertunjukan Ki Dalang telah berakhir.

Orang lain melihat bayangan kita, perilaku dan jatidiri kita, dari balik kelir/layar pertunjukan. Hati yang culas, kotor, penuh curiga, materialis, hedonis menciptakan bayang-bayang yang suram-kabur. Sebaliknya, jiwa murni-tulus-suci-rendah hati akan menghadirkan bayangan penuh pesona, mimikat, dan enak ditonton. Sinar kasih Allah akan memancar dan memantulkan kasih, harapan, dan daya juang.

Semprong

Pernahkah Anda mendengar kata semprong. Kue semprong sangat gurih, enak, dan lezat. Sebagai cemilan kue semprong sangat diminati.

Di pedesaan, semprong berkaitan dengan masak-memasak. Semprong yang satu ini sempat menghilang. Orang meninggalkan karena takut dibilang ”kutu kupret” ( pinjam istilah Tukul). Kini, semprong yang terbuat dari satu ruas bambu ini diminati lagi: akibat konversi minyak tanah sehingga masak-memasak kembali menggunakan kayu bakar. Dus, bila api padam, semprong digunakan untuk ’menghidupkan api” dengan cara ditiup.

Masih di pedesaan ”semprong yang ini” berkait dengan penerangan. Terbuat dari kaca, tipis, dan digunakan untuk melindungi ”nyala api dari dian”. Sering, semprong berjelaga karena sumbu minyak sering bernyala terlalu besar. Kalau sudah demikian, sinar menjadi buram.

Kita pun semprong juga. Tentu, semprong terakhir . Nyala api adalah Sang Immanuel. Kitalah semprongnya. Berjelagakah kita?

Kepiting Pantai

Pernah pesiar di pantai? Ya, di atas pasir bersih kita akan melihat banyak kepiting. Lucu, gesit, membuat gemas. Suatu hari ”Sang Induk Kepiting” memarahi anak-anaknya. Katanya, ”Hai, kenapa kalian berjalan mundur? Lihat, teman-temanmu slalu berjalan maju! Memalukan!”

Anak-anak kepiting bungkam. Tertunduk. Lesu. Hening. Lamaaa sekali. Tiba-tiba, salah satu anak kepiting berteriak keras, ”Ibu, bukankah kami belajar berjalan dari ibu? Bukankah selama ini ibu mengajari kami berjalan mundur?”

Sang ibu pun tertunduk. Malu. Sangat malu.

PESONA

Namanya Eroh. Usia 67 tahun. Pendidikan terakhir Kelas 3 SR (SD). Alamat Kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Pernah mendapat penghargaan (1) Pekan Penghijauan Narional, (2) Pekerja Sosial Masyarakat, (3) Kalpataru, (4) Penghargaan 500 Besar Dunia dari UNEP PBB.

Ibu Eroh pernah disangka ”gila” oleh RT-RW-Kuwu. Betapa tidak? Nenek renta yang menghidupi suami (lumpuh) dan anaknya dengan mencari jamur kayu itu bercerita telah menembus delapan bukit. Bahkan, tetangga pun menganggap Ibu Eroh memang gila.

Benarkah Ibu Eroh gila?

Dua tahun Ibu Eroh, yang terispirasi sebuah sungai dengan aliran deras tetapi terhalang delapan bukit dan hutan, sungguh ditaklukkan. Tiap subuh sebelum mencari jamur kuping ibu Eroh menggali dan menggali. Parit sepanjang dua kilometer lebih selesai hampir dua tahun. Menembus delapan bukit dan hutan. Berkelok-kelok bak seekor naga.

Sendirian? Memang! Selama dua tahun lebih ”meraih mimpi kampung nan subur makmur”, ibu Eroh telah menghabiskan dua buah cangkul, singkup empat buah, dan sebuah linggis. Semuanya dibeli dengan menyisihkan penjualan jamur kuping yang ia kumpulkan sehabis ”menjalani ide gila: mengalirkan sungai ke kampungnya”.

Panas terik, guyuran hujan tak mematahkan semangat nenek renta, ketika itu usia sudah 59 tahun? Dan, tak ada orang yang tahu ”kerja ibu Eroh”. Namun, begitu parit mendekati kampung, ibu Eroh meminta perangkat desa dan penduduk membantunya. Tapi, apa didapat ”dianggap gila”.

Dari ”impian gila dan dianggap orang gila” inilah Ibu Eroh berjabat tangan dengan presiden dan dinobatkan PBB sebagai 500 besar Dunia. Dan. Apakah mimpi kita?

SAJAK-SAJAK CINTA

Oktober 16, 2008

SAJAK SELEMBAR DAUN KERING

JS Kamdhi

Inilah sajakku, selembar daun kering

di halaman gereja

berdesah dalam doa

berilah kami telinga-Mu, ya Allah

janganlah bersembunyi dalam putting beliung

yang akan melesatkan tubuhkan di bubungan lonceng-Mu

lihatlah cemas-gelisah-waswasku

yang berujung di semak belukar

inilah sajakku, selembar daun kering di altar gereja

berdesah dalam doa

dalam pinta

dalam gentar

dalam baying

menjadi merpati terbang tinggi

menemu tempat tenang bermalam di padang pasir

inilah sajakku selembar daun kering di tabernakel

menepis debu

merangkai kata

mengusah dada

tanpa air mata

tanpa lilin nyala

tanpa pinta

inilah sajakku, selembar daun kering di hati

berharap menjadi pupuk

merayap bersama cicak

merayap bersama rayap

tanpa pinta

tanpa

e.20.01.02.jsk

Sajak Untuk Seorang Sahabat

Aku tulis untuk

Pastor Blessing, OSC

Aku tulis sajak ini

untuk mengenang perjalananmu, sahabat

tengoklah kembali

ke masa-mas awal di Amsterdam

saat-saat kau berlarian memetik tulip

di kebun belakang

atau

saat-saat tergelincir di bukit salju

dan kau mengaduh

sahabat

masih ingatkah kau ketika air matamu menetes

membasuh jubahmu saat pelabuhan

kau tinggalkan

dan juga ketujuh saudaramu

serta kedua orang tuamu tercinta melambai tangan bangga

dengan banjir air mata

meski bukan air mata duka

tapi air mata harapan menuju tanah terjanji

bagai Musa memukulkan tongkat di bukit cadas

sahabat

masih ingatkah

lima puluh hari kau hitung butir-butir tasbih

di kapal menantang badai topan?

Kini, tampaknya usia lebih kuat dari kita

tujuh puluh lima tahun penuh warna

tujuh puluh lima tahun menyemai benih di katulistiwa

kita tersenyum dan selalu tersenyum

meski tubuh semakin merapuh

tapi bukan karna terkalahkan

tahun-tahun yang telah kita simpan

adalah via dolorosa

tahun-tahun yang telah kita lumatkan

adalah nikmat surgawi bagai Zakeus mendaki pohon berduri

sahabat

hari masih panjang

meski hari merembang petang

tangan-tangan terkulai lemah

kaki-kaki perkasa tak berdaya

mulut-mulut komat-kamit tanpa suara

selamat

ulang tahun sahabat

SAJAK CINTA

Aku tulis untuk sahabat

Yang tegar menantang badai

Cinta adalah bumi, sahabat

tempat kita

tempat kita menyemai dan menuai

jadilah bumi setiap kakimu kau injakkan

di pagi hari

Cinta adalah matahari yang bersinar tanpa lelah

membagi kehangatan dan kehidupan tanpa memandang bulu

memberi tanpa mengharap

membagi tanpa menerima

jadilah matahari begitu kau rasakan sinarnya

di pagi hari

Cinta adalah bintang yang bertebaran di angkasa

siang dan malam

begitu saja tanpa mengeluh

betia setia tanpa menyerah

meski cahaya hilang di waktu siang

jadilah bintang begitu mentari menyapamu

di pagi hari

Cinta adalah angkasa luas tak bertpi

tempat awan, mega, mendung bergantung

tempat petir, halilintar, dan hujan

tak pernah mengaduh

tak pernah mengeluh

jadilah angkasa begitu kau buka jendela

di pagi hari

Cinta adalah rembulan yang bersinar di gelap malam

redup sinar menyibak malam kelam

jadilah rembulan begitu senja menghalau siang

dan malam-malam yang panjang menyertai sebelum kau songsong

pagi hari

Cinta adalah air jernih yang turun dari lereng gunung

mengalir dan menyapa petani

menghidupi tetumbuhan dan pepohonan

menghanyutkan segala lumpur dan sampah-sampah

mengalir dan mengalir hingga samudra luas

jadilah mata air begitu kau buka pintu kamarmu

di pagi hari

Cinta adalah angin semilir

tak pernah memilih

berembus ke mana ia berembus

memberi dan terus memberi

jadilah angin yang tak pernah lelah

begitu kau melangkah

di pagi hari

Cinta adalah api yang menghangatkan

membakar dan menghanguskan

jadilah api begitu melangkah

sampai halaman rumah

di pagi hari

Cirebon, 9 Februari 2001

PERCIKAN PERMENUNGAN

September 19, 2008

PERCIKAN PERMENUNGAN:

(1) MENJADI CITRA ALLAH

Oleh JS kamdhi

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita

dengan lidah kita mengutuk manusia yang dicipta serupa Bapa

dan dari mulut yang satu keluar kutuk dan berkat (Yakobus 3: 9-10)

Banyak orang mudah takut dan bingung. Banyak orang mudah marah tanpa sebab. Banyak orang mudah gelisah. Cemas, was-was, khawatir tanpa tahu mengapa harus demikian. Banyak orang menjadi cuek, masa bodoh, apatis tanpa tahu mengapa harus bersikap begitu.

Hal tersebut sangat manusiawi. Sebab, dalam hidup keseharian, kita hanya berhenti pada suasana yang tercipta atau kita ciptakan. Kita berdiam diri, menyerah, pasrah. Tak bernyali menjari solusi. Atau, mencari ’causa prima’; penyebab utamanya.

Dalam situasi ini kita menghindar dan berkelit. Seolah, tidak terjadi apa-apa. Kita menyimpan dalam-dalam ke alam bawah sadar. Tak ada daya membongkar dan memperbaharui, menanggalkan dan mengenakan, menafsir dan menaksir ulang arah dan tujuan hidup. Tak ada keberanian dan kejujuran untuk kembali ke panggilan kodrati: menjadi citra Allah.

Menjadi citra Allah tidaklah mudah-populer-memikat untuk saat ini. Terlebih, di tengah dunia yang mengagungkan kemewahan, penampilan, lahiriah, instan menjadi citra Allah adalah kontroversial-kampungan-kuno-udik. Sehingga, harga diri dan jatidiri sebagai ’ciptaan yang paling agung telah hilang dari bumi yang berketuhanan. Lihat saja, siapa yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan? ”Orang-orang terhormat” dan ”kaum cerdik-pandai”!

Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja, menyodorkan empat karya besar sebagai solusi menjadi citra Allah: Confessiones, De Trinitate, De Natura et Gratia, dan De Civitate Dei.

Setiap orang harus bertobat (confessiones) agar menemukan Bapa-Putra-Roh Kudus (De Trinitate). Dengan demikian hidup dan kehidupan dihayati sebagai rahmat dan karunia (de natura et gratia): suka-duka, gagal-sukses, gembira-sengsara, sakit-sehat. Dengan demikian, Tuhan merajai hidup dan kehidupan. Hanya dengan bertobat-mengalami-mensyukuri-melakukan kehendak-Nya, kita menjadi citra Tuhan. Tanpa keempat Jalan Agustinus tidak mungkinlah kita rukun pada diri sendiri, rukun pada sesama, rukun pada alam semesta.

Kesadaran akan jalan kesadaran Agustinus, setiap orang beriman kristiani akan menjadi garam, terang, dan ragi. Selalu terlibat dan melibatkan diri dalam pemberdayaan dan penebusan. Cepat mengerti, lambat mengadili. Cepat menangkap, lambat komentar!

Mengapa harus cemas-gelisah-takut-khawatir bila kita hidup dalam citra Allah? Kita akan semakin kuat dan tahan banting. Cepat mengampuni dan cepat melupakan kesalahan orang. Dan, seperti Daud kita mengucap setiap saat, ”Sekalipun berjalan di lembah kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

(2) MENJADI BIJAKSANA

Oleh JS Kamdhi

Carilah lebih dahulu kerajaan surga

Dan semuanya akan ditambahkan padamu (Matius 6: 19-33)

Kini, kebenaran telah punah di negeri jamzrud khatulistiwa. Kebohongan, pura-pura, kepalsuan, bertebaran di setiap jengkal. Terganggulah relasi. Hilanglah dialog batin rohani. Suasana hidup penuh rekayasa. Basa-basi, tak ada spontanitas.

Sayang, banyak orang menolak yang benar. Yang benar menjadi samar. Yang jujur menjadi hancur. Yang adil menjadi kerdil. Yang setia merana! Menyatakan dan mengatakan yang tidak benar menjada ”gaya hidup”. Benarlah filsuf-penyair John Wolgang von Gothe, ”Kebenaran adalah cahaya yang menyilaukan, sehingga orang lebih suka menutup mata.”

Dari dunia binatang kita bisa belajar bagaimana berinteraksi, bersosialisasi, dan bertahan dalam tantangan-himpitan-cobaan. Seolah, binatang dibekali kemampuan menyesuaikan diri. Ikan, misalnya, meskipun hidup di laut dengan air yang asin, tetapi tidak menjadi asin. Ada daya yang luar biasa hingga tak dilibas situasi, tetapi mampu menciptakan situasi. Tidak terkondisikan, tetapi mengkondisikan.

Juga, dalam dunia tumbuhan. Tumbuhan apa pun akan berusaha mencari celah agar mampu menatap matahari. Tampak, ada semacam dorongan luar biasa untuk menjadi bijak dan hidup benar. Sinar matahari sebagai sumber kekuatan-dayahidup, meski menyilaukan, mendasari pergulatan.

Pasti, dibutuhkan daya hidup. Pasti, dibutuhkan perjuangan untuk menciptakan situasi dan bukan dikuasai situasi. Sebab, menjadi bijaksana tidak dengan sendirinya. Juga, tidak dapat direkayasa. Menjadi bijaksana bukan pemberian atau hadiah. Menjadi bijaksana adalah sebuah pilihan untuk berproses. Tegak-tegar-tangguh dalam jatuh-bangun, gagal-sukses, dihargai-dicaci, dikagumi-dilecehkan, disanjung-dinistakan.

Kerajaan surga adalah hidup bijaksana. Berkemampuan membedakan yang penting dan tidak penting, yang utama dan yang sia-sia, yang memberdayakan dan yang meluluhlantakakan.

Maka, dibutuhkan keunggulan untuk menjelajahi-mencermati-memperjuangkan kepentingan bersama. Mengurai akar-akar konflik. Dibutuhkan keunggulan hidup untuk memutus rantai-rantai kebencian, arogansi, dan ”mempertuhankan diri sendiri. Dibutuhkan keunggulan wawasan sehingga setiap orang mampu menepis emosi dan pikiran negatif. Berkemampuan menerima-mengakui-mencintai keberbedaaan keyakinan dan pencarian jati diri.

Gutta cavat lapidem, tetesan air akan melubangi batu. Demikian juga usaha berbalik pada Tuhan membutuhkan penyangkalan hidup (Mrk 8:34), mengasihi musuh (Lk 6: 27-28). Hal yang paling sederhana, bila dilakukan dengan ketulusan, akan menghasilkan buah melimpah.

(3) RELIGIOSITAS: INTIMITAS JIWA?

Oleh JS Kamdhi

Ada beraneka kegunaan gelas. Di antaranya, untuk minum dan status sosial. Harga pun beragam; ribuan dan jutaan. Status pengguna pun beragam. Dari mereka yang di gubuk kartun hingga istana negara. Isi gelas, lebih beragam; air putih, kopi, teh, susu, anggur, sirup, hingga yang beralkohol.

Pasti, gelas kosong-berisi penuh-berisi setengah, berbeda. Gelas yang penuh berisi tak menyisakan ruang kosong. Gelas yang tak penuh berisi memiliki ruang kosong yang masih mungkin terisi. Gelas dan isi gelas sangat berbeda.

Secara analog, agama dan keberagamaan seperti gelas dan isi gelas. Agama lebih menunjuk kepala kelembagaan kebaktian pada Tuhan dengan segala aspeknya: yuridis, resmi, peraturan, hukum, ritual, serta seluruh organisasi tafsir alkitabiah. Sedang, keberagamaan atau religiositas lebih melihat dalam lubuk hati, riak getaran hati-nurani pribadi, sikap sembah, sikap tobat, yang sedikit banyak misteri bagi orang lain karena merupakan intimitas jiwa, cita-rasa yang mencakup totalitas jiwa.

Bila gelas kehidupan kita penuh maka bernilai dan berharga. Artinya, seluruh perkataan, perbuatan, tindakan, kegiatan, serta keterlibatan kita selalu memberdayakan. Seluruh pemikiran dan perasaan membawa pencerahan. Seluruh ide-gagasan-penilaian menghadirkan pendewasaan. Sebaliknya, bila gelas hidup kita kosong, yang ada hanya kesombongan, kepicikan, kemunafikan, iri, dengki, permusuhan, dan kepalsuan.

Religiositas, sebagai isi gelas, harus diperjuangkan setiap saat meski harus jatuh-bangun, gagal-sukses, bersemangat-loyo. Sebab, isi gelas kehidupan, akan memberi arah-tujuan-harapan yang pasti ”jadilah sempurna seperti Bapa di surga”. Dengan demikian, hidup kita lebih berkualitas, bermakna, dan memberdayakan. Setiap orang akan mengalami dan menemukan, dalam diri kita, damai-sejahtera.

Tentu, religiositas tidak sama dengan perilaku saleh: selalu aktif dalam kegiatan, sibuk dalam organisasi kegerejaan. Sebab, kegiatan-kegiatan saleh bisa menjadi pembungkus ”gelas kosong” demi kehormatan-nama baik-pujian.

Pertanyaan kita, mengapa banyak orang ”bergelas kosong atau sedikit berisi”? Mengapa, di negeri berketuhanan ini, sibuk dengan bentuk, harga, dan kegunaan gelas dan bukan bagaimana mengisi gelas?

Pertama, eksklusivisme. Sebuah pandangan yang menempatkan kelompok, lembaga, institusi, organisasinya paling benar, paling baik, paling suci. Sehingga, tidak jarang ’mempertuhankan” diri dengan memberi stigma kafir pada yang lain.

Kedua, puitanisme. Sebuah pandangan yang merindukan kembali ke bentuk asli. Segala sesuatu, yang menempel bentuk asli, harus disingkirkan. Kita lupa bahwa keberagamaan kita dibentuk denga adat-budaya, tradisi, dan pola hidup secara turun-temurun.

Apakah gelas kita penuh berisi atau kosong? Carut-marutnya kehidupan bersama karena intimitas jiwa manusia dengan Tuhan hanya ”dunia khayal” dan bukan interaksi sosial tanpa memandang latar belakang kehidupan.

(4) INNER CIRCLE

JS Kamdhi

Teologi gelas kosong menghadirkan dua gaya hidup: eksklusisvisme dan puritanisme. Teologi gelas kosong menunjuk kehidupan ”orang beragama” tanpa intimitas jiwa-sikap tobat-sikap sembah-syukur-kasih-harapan. Kini, kita anak merenungi inner circle (lingkaran dalam) dan out circle (lingkaran luar), crowd (masyarakat): yang menyebabkan gelas penuh berisi atau gelas kosong. Inner circle adalah orang-orang dekat: keluarga, kantor, pemerintah, gereja. Out circle orang-orang yang kita kenal, tetapi berjauhan dalam jiwa-hati-nalar. Crowd adalah orang kebanyakan: tidak kita kenal.

Inner circle setiap orang bertumbuh-berkembang-meluas selaras proses pemribadian dan kedewasaan pribadi-iman-kecerdasan. Inner circle bermula dari orangtua-pengasuh-adik-kakak-famili ( oma-apa-oom-tante)-sahabat-guru-Tuhan. Tidaklah heran kita bila dari waktu ke waktu seorang anak tumbuh-berkembang wawasan-kecerdasan-kepercayaan. Inner circle sangat menentukan kedewasaan-kepribadian-intelektual-emosional-sosial-moral.

Ada dua indikasi yang perlu kita cermati. Pertama, semakin sempit inner circle semakin terbatas wawasan-pengetahuan-keyakinan-relasi-interaksi-iman, sehingga terbuka ruang yang sangat luas untuk berkonflik-berselisih-permusuhan-iri-perselingkuhan. Kedua, semakin luas inner circle semakin sempit ruang kosong. Semakin luas inner circle semakin luas-dalam pengetahuan, wawasan, kecerdasan, dan iman.

Masalah kita sekarang bangaimana agar kita dapat bertumbuh-berkembang sehingga mampu membentuk komunitas sehati, sepikir, sejiwa, dan setujuan? Mungkinkah kita memperluas inner circle sehingga kerinduan Paulus, terciptanya komuniatas dalam terang injili: satu baptisan, satu harapan, satu iman, satu kasih, satu roh, satu Tuhan!

Harus kita akui bahwa luasnya jejaring lingkaran dalam (inner circle) sangat berpengaruh dalam seluruh aspek hidup. Luasnya jejaring inner circle semakin memberi bobot penghayatan hidup. Hidup semakin bermakna-berarti-dibutuhkan. Semakin luasnya jejaring inner circle kita memiliki SMART (specific, measurable, attainable, relevant, timely). Hidup dalam lima karakter yang memberdayakan: keunikan, terukur, siap-sedia, berdaya guna, tepat waktu.

Sebaliknya, bila inner circle tetap sempit, kita mensetting hidup ini dengan kawan-lawan. Dengan demikian, kita hidup sebagai orang-orang farisi. Kita menjadi bonsai, bukan pohon yang kokok-bercabang-beranting-berbuah melimpah. Menjadi keharusan bagi kita memperluas inner circle dan mempersempit out circle. “Pergilah ke seluruh dunia, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:19-20)

AGE QUOT AGIS

Juli 22, 2008

bagaimana aku melihat

bila aku buta

bagaimana aku berjalan

bila kakiku patah

bagaimana aku merasa

bila hatiku berjelaga

Hello world!

Juli 22, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.